Friday, December 1, 2017

WAWASAN AL-QUR’AN DAN HADITS TENTANG RASA INGIN TAHU DAN MENGHARGAI PRESTASI




MAKALAH

KAJIAN AL-QUR’AN DAN HADITS
TENTANG PENDIDIKAN KARAKTER

Tentang:

WAWASAN AL-QUR’AN DAN HADITS TENTANG
SIKAP RASA INGIN TAHU DAN MENGHARGAI PRESTASI






Dosen Pembimbing:
Dr. Hj. WISNARNI, M.PdI/Dr. MUHAMMAD YUSUF, M.Ag

Oleh:
Angga Hardianto
NIM. 211017011




FAKULTAS PENDIDIKAN AGAMA ISLAM PROGRAM PASCASARJANA
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) KERINCI
TAHUN AKADEMIK 2017/2018
 




WAWASAN AL-QUR’AN DAN HADITS TENTANG
RASA INGIN TAHU DAN MENGHARGAI PRESTASI

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Ketinggian dan keutamaan martabat insan daripada semua makhluk lain terletak kepada beberapa keistimewaan yang Allah karuniakan khusus untuk anak Adam.Keistimewaan itu ialah grand design atau rahasia Allah yang tidak diberikan kepada makhluk lain. Allah SWT memberi tahu para malaykat bahwa Dia akan menjadikan manusia sebagai khalifah dimuka buminya.[1]
Manusia merupakan makhluk Allah yang paling sempurna dan ciptaan yang terbaik. Ia dilengkapi dengan akal pikiran. Dalam hal ini, Ibn Arabi melukiskan hakikat manusia dengan mengtakan bahwa: “Tidak ada makhluk Allah yang lebih bagus daripada manusia, yang memiliki daya hidup, mengetahui, berkehendak, berbicara, melihat, mendengar, berpikir dan memutuskan.[2]
Firman Allah :
لَقَدْ خَلَقْنَا الإنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ
Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya” (Q.S. At-Tin : 4)
Salah satu dari berbagai karunia yang Allah berikan yaitu rasa ingin tahu tentang sesuatu. Dan dikarenakan rasa ingin tahu inilah, manusia terus berusaha untuk belajar, guna untuk menambah ilmu pengetahuan. Pada hakikatnya, manusia layaknya memiliki satu kunci yang sama dimana kunci ini sangat menentukan kedudukan manusia apakah ia terhormat atau rendah, baik atau buruk, bahagia atau menderita. Kunci itu adalah ilmu pengetahuan, ia laksana cahaya bagi manusia, karena tanpa ilmu pengetahuan manusia akan tersesat dan tak terarah dalam kegelapan dunia. Inilah mengapa Allah SWT menurunkan anugerah akal dan pikiran bagi manusia untuk mencari ilmu pengetahuan yang tak lain sebagai penerang dalam kehidupannya.
Sering kali kita memiliki rasa penasaran dan rasa ingin tahu. Dalam banyak kesempatan rasa penasaran ini begitu menggebu-gebu, sehingga kita tidak kuasa menolaknya. Demi mengobati rasa penasaran ini, sering kali kita rela berkorban dengan banyak hal: waktu, harta,tenaga, pikiran dan lainnya. Namun sayangnya, betapa banyak hal-hal yang kita ingin ketahui ternyata termasuk hal yang terlarang untuk kita ketahui.
Dikarenakan rasa ingin tahu inilah, manusia akan terus berkembang dan berkarya, namun didalam Islam, ada karya/prestasi yang baik dan ada yang buruk, dan yang menetapkan apa yang baik itu adalah Tuhan, bukan manusia dan bukan pula nafsu manusia. [3]

B.     Rumusan Masalah
a.       Wawasan Al-Qur’an dan Hadits tentang rasa ingin tahu.
b.       Wawasan Al-Qur’an dan Hadits tentang menghargai prestasi.

C.     Manfaat penulisan
a.       Menambah wawasan mengenai rasa ingin tahu dan menghargai prestasi.
b.      Sebagai bahan diskusi dan tugas Mata Kuliah Wawasan AL-Qur’an dan Hadits Tentang Pendidikan Karakter.
c.       Sebagai sumbangan pikiran baik forum maupun bagi penulis sendiri.


BAB II
PEMBAHASAN
A.    WAWASAN AL-QUR’AN DAN HADITS TENTANG RASA INGIN TAHU
1.      Pengertian
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, rasa ingin tahu diartikan sebagai perasaan atau sikap yang kuat untuk mengetahui sesuatu atau dorongan yang kuat untuk mengetahui lebih banyak tentang sesuatu.
Rasa ingin tahu adalah sikap ingin mengetahui sesuatu dikarenakan adanya akal/pikiran/hati.
Manusia diberikan akal/hati oleh Allah SWT, guna digunakan untuk berfikir. Manusia diberi rasa ingin tahu yang sangat besar terhadap sesuatu. Rasa ingin tahu itu terkadang menjurus pada dua cabang pembelokkan dua sisi, yaitu positif dan negatif.

2.      Rasa ingin tahu hal yang positif
Rasa ingin tahu positif akan memberikan dampak yang berguna apakah itu untuk dirinya sendiri ataupun orang banyak. Rasa ingin tahu positif yang kuat adalah modal untuk para ilmuwan untuk menjadi seorang ahli di bidangnya. Rasa ingin tahu positif yang kuat ini terkadang menjadi sebuah pendorong bahkan ketika kegagalan terjadi. Dengan rasa ingin tahu positif yang kuat, kegagalan hanyalah menjadi kerikil untuk mencapai sebuah gunung raksasa. Rasa ingin tahu positif inilah yang menjadi awal dari sebuah fantasi, imajinasi yang pada akhirnya menghasilkan karya-karya besar.
Rasa ingin tahu yang positif tentu membawa banyak manfaat, diantaranya, dapat memperkuat hubungan Rasa ingin tahu tentang orang-orang dan lingkungan sekitar dapat membuat kehidupan sosial lebih kaya. Orang-orang yang memiliki rasa ingin tahu sering dianggap sebagai pendengar yang baik dan cakap berbicara.
Orang yang memiliki rasa ingin tahu cenderung membawa kesenangan dan kebaruan dalam hubungan," ujar Ben Dwan, Ph.D. dari Universitas Pennsylvania.
Kita umat manusia adalah makhluk yang sempurna diciptakan Tuhan di muka bumi ini. Karena kita dianugerahkan dengan berbagai alat indera dan akal pikiran . Sudah menjadi kodrat dari manusia yang memiliki rasa ingin tahu , menyebabkan manusia selalu berpikir dalam rangka mempertahankan kehidupannya. Manusia merupakan makhluk yang dapat dan akan selalu berpikir . Mereka akan selalu memiliki hasrat rasa ingin tahu dan ingin mengerti .
Dalam Al-Qur’an, banyak sekali kisah dan perintah yang dapat membuat kita selalu memiliki rasa ingin tahu tetntang sesuatu. Sebagaimana kisah nabi Musa Kalamallah A.S., dengan Nabi Khidir Waliyyullah A.S. Mulai dari rasa ingin tahu tentang sosok seorang (Nabi Khidir) sampai kepada kebingungan Musa terhadap perbuatan Khidir.
Firman Allah:
قَالَ لَهُ مُوسَى هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَى أَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا
قَالَ إِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا
Artinya:
Musa berkata kepada Khidhr: "Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?"
Dia menjawab: "Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku (QS. Al-Kahfi : 66-67)
Banyak sekali pelajaran yang dapat kita ambil dari kisah nabi Musa dalam QS. Al-Kahfi. Diantaranya:
a.       Anjuran untuk tawadhu’ dan tidak sombong.
b.      Anjuran untuk selalu belajar dan memiliki rasa ingin tahu yang kuat.
c.       Kewajiban melaksanakan ajaran yang telah disyariatkan sekalipun akal tidak mampu mencernanya.
d.      Anjuran safar dalam Thalabul ‘Ilmi.
e.       Anjuran patuh terhadap perintah Murobbi.
Rasa ingin tahu terhadap sesuatu merupakan anjuran Agama Islam, karena Allah telah menciptkan pasilitas untuk umat manusia, baik itu pasilitas dari dalam diri (akal/fikiran/hati) maupun pasilitas dari luar (alam semesta).
Firman Allah:
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَاخْتِلافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لآيَاتٍ لأولِي الألْبَابِ
Artinya:
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal” (Q.S. Ali Imran : 190).
Allah Swt pada ayat 190 surah Ali Imran mengajak manusia untuk berpikir dan merenungi tentang penciptaan langit-langit dan bumi. Kemudian pada ayat berikutnya Allah Swt menjelaskan hasil dan buah dari berpikir ini.
Ayat ini menjelaskan tentang keesaan Tuhan Sang Pencipta dan menyatakan bahwa apabila manusia memikirkan dengan cermat dan menggunakan akalnya terkait dengan proses penciptaan langit-langit dan bumi, silih bergantinya siang dan malam, maka ia akan menemukan tanda-tanda jelas atas kekuasaan Allah Swt maha karya dan rahasia-rahasia yang menakjubkan yang akan menuntun para hamba kepada Allah Swt dan hari Kiamat serta menggiring mereka pada kekuasaan Ilahi yang tak terbatas.
Tafsir Ibnu Katsir
Salah satu bukti kebenaran bahwa Allah merupakan Sang Pemilik atas alam raya ini, dengan adanya undangan kepada manusia untuk berpikir, karena sesungguhnya dalam penciptaan, yakni kejadian benda-benda angkasa, seperti matahari, bulan dan jutaan gugusan bintang-bintang yang terdapat dilangit, atau dalam pengaturan sistem kerja langit yang sangat teliti serta kejadian dan perputaran bumi pada porosnya yang melahirkan silih bergantinya malam dan siang, perbedaannya baik dalam masa maupun panjang dan pendeknya terdapat tanda-tanda kemahakuasaan Allah bagi ulul albab, yakni orang orang yang memiliki akal yang murni.
Kata (البابal-bab adalah bentuk jamak dari (لب) lub yaitu “saripati/inti” sesuatu. Kacang misalnya, memiliki kulit yang menutupi isinya. Isi kacang dinamai lubUlul albab adalah orang-orang yang memiliki akal yang murni, yang tidak diselubungi oleh “kulit”, yakni kabut ide yang dapat melahirkan kerancuan dalam berpikir. Orang yang merenungkan tentang penomena alam raya akan dapat sampai kepada bukti yang sangat nyata tentang keesaan dan kekuasaan Allah Swt.[4]
Asbabun Nuzul:
Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa orang Quraisy datang kepada orang Yahudi untuk bertanya: “Mukjizat apa yang dibawa Musa kepada kalian?” Mereka menjawab: “Tongkat dan tangannya terlihat putih bercahaya.” Kemudian mereka bertanya kepada kaum Nasrani: “Mukjizat apa yang dibawa Isa kepada kalian?” Mereka menjawab: “Ia menyembuhkan orang yang berpenyakit sopak, dan menghidupkan orang yang mati.” Kemudian mereka menghadap Nabi Muhammad SAW., dan berkata: “Hai Muhammad, coba berdoalah engkau kepada Rabb-Mu agar gunung Shafa ini dijadikan emas.” Lalu Rasulullah SAW., berdoa. Maka turunlah ayat ini (QS. Ali Imran: 190)[5] Sebagai petunjuk untuk memperhatikan apa yang telah ada, yang akan lebih besarmanfaatnya bagi orang yang menggunakan akal. (Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dan Ibnu Hatim, yang bersumber dari Ibnu Abbas.
Mengenai rasa ingin tahu terhadap sesuatu, Rasulullah SAW, memberikan anjuran dalam hal ini, sebagaimana banyak tertulis dalam hadits beliau:
-          HR. Imam Abu Dawud:
فَإِنَّمَا شِفَاء العي السُؤَالُ
Artinya:
“Sesungguhnya obat dari ketidak tahuan adalah bertanya”. (Hasan, HR Abu Dawud: 336, Ibnu Majah: 572, dan lainnya)
Makanya tak heran banyak ditemukan riwayat tentang pertanyaan-pertanyaan sahabat ridhwanullahi ‘alayhim kepada baginda nabi Muhammad sholallahu ‘alayh wasallam. Misal amal apa yang paling baik, jika aku melakukan ini apakah akan begini, dan sebagainya. Tak lain tak bukan yang melatar belakangi mereka adalah rasa keingintahuan terhadap suatu hal. Baik berupa masalah aqidah, ibadah, hari akhir dan sebagainya.
-          HR. Turmudzi
مَنْ خَرَجَ فِي طَلَبِ الْعِلمِ فَهُوَ فِي سَبِيْلِ اللهِ حَتّى يَرْجِعَ
Artinya:
Barangsiapa yang keluar untuk mencari ilmu, maka ia berada dijalan Allah, hingga ia pulang. [6]
-          H.R.Ibnu Majah
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ.
“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim.”[7]

Selain dari Ayat dan Hadits diatas, juga disebutkan didalam atsar sahabat yang mulia. Beliau adalah Abdullah ibn Abbas rodhiyallahu ‘anhu. Pernah suatu hari ditanyakan kepada beliau tentang rahasia kecerdasannya. Maka beliau menjawab :
لِسَانُ سُؤُول وَ قَلْبُ عُقُوْل
Artinya:
Dengan lidah yang senantiasa bertanya dan hati yang selalu berpikir.[8]
Rasa ingin tahu yang positif sangat dianjurkan dalam Agama Islam, para nabi terdahulu memiliki rasa ingin tahu yang sangat kuat.
Sebagaimana kisah nabi Ibrahim as ingin tahu tentang Tuhan.
Nabi Ibrahim as mulai menggunakan akal sehatnya untuk mencari Tuhannya yang menciptakan jagad raya dan seisinya menjadi ada. Awalnya Nabi Ibrahim as menganggap bintang yang menerangi malam itulah Tuhannya, namun Nabi Ibrahim as menolaknya setelah bintang itu hilang cahayanya saat muncul bulan yang lebih terang.
(Dalam Alquran: Surah Al An'naam:76)
فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ اللَّيْلُ رَأَى كَوْكَبًا قَالَ هَذَا رَبِّي فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لا أُحِبُّ الآفِلِينَ
"Ketika malam telah menjadi gelap, dia (nabi ibrahim) melihat sebuah bintang (lalu) dia (nabi ibrahim) berkata: 'itulah Tuhanku, 'Tetapi tatkala bintang itu tenggelam, dia (nabi Ibrahim) berkata: 'saya tidak suka kepada yang tenggelam,"
Lagi-lagi Nabi Ibrahim as harus kecewa karena ternyata bulan juga tidak langsung kenampakannya, hilang ketika fajar mulai menyingsing di pagi hari. Pagi harinya ketika sang Surya memancarkan sinarnya yang membuat bumi terang benderang maka Nabi Ibrahim as mengira telah menemukan apa yang dicarinya. Namun ternyata matahari juga mengecewakan karena bisa hilang di waktu malam hari.
Nabi Ibrahim as terus mencari siapakah sebenarnya Tuhannya, sampai akhirnya Nabi Ibrahim as diperlihatkan keagungan dan kekuasaan Allah SWT.[9]
Selain dari kisah nabi Ibrahim diatasa, nampaknya kisah Nabi Musa dengan nabi Khidir juga bisa dijadikan contoh tentang memiliki rasa ingin tahu.
Mulai dari keingintahuan nabi Musa mencari posisi nabi Khidir sampai kepada keingintahuan nabi Musa terhadap ilmu nabi Khidir. Sebagaimana kisah yang disebutkan dalam QS. Al-Kahfi: 66–67:
قَالَ لَهُ مُوسَى هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَى أَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا
قَالَ إِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا
”Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?’ Dia menjawab, ‘Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku.’
Khidir berkata, ‘Wahai Musa, aku ini mengetahui suatu ilmu dari Allah yang hanya Dia ajarkan kepadaku saja. Kamu tidak mengetahuinya. Sedangkan engkau juga mempunyai ilmu yang hanya diajarkan Allah kepadamu saja, yang aku tidak mengetahuinya.’
Musa berkata,
سَتَجِدُنِي إِن شَاء اللَّهُ صَابِراً وَلَا أَعْصِي لَكَ أَمْراً
Insya Allah, kamu akan mendapati aku sebagai seorang yang sabar dan aku tidak akan menentangmu dalam suatu urusan pun.’ (QS. Al-Kahfi: 69)
Itulah jawaban yang sekaligus janji yang dikatakan oleh Musa untuk meyakinkan Khidir. Akhirnya Khidirpun menerima Musa tetapi pada akhirnya Nabi Musa tidak mampu memenuhi syarat yang diberikan oleh nabi Khidir.[10]

3.      Rasa ingin tahu yang negatif
Rasa ingin tahu yang negatif dapat menimbulkan kekerasan bahkan dapat membuat secara fisik ataupun emosional terluka. Aristoteles menyatakan bahwa kita bahkan “menikmati memikirkan imej-imej yang paling tepat yang dengan membayangkannya adalah sangat membuat kita menderita[11]
Rasa ingin tahu negatif seringkali menimbulkan kerugian pada diri manusia itu sendiri, padahal percikan rasa ingin tahu negatif seharusnya dapat dihindarkan dengan pengalihan pikiran dan pengacuhan timbulnya rasa ingin tahu tersebut. Pada saat rasa ingin tahu negatif telah terpuaskan (yaitu dengan “mengetahui” apa yang ingin diketahui tersebut), efek samping lainnya lalu muncul, yaitu keresahan. Pikiran-pikiran negatif yang tak kunjung usai yang bermula dari rasa ingin tahu berubah menjadi sebuh rantai yang bila tidak cepat diputus akan menimbulkan terkurasnya energi yang sangat besar. Contoh kasus rasa ingin tahu lainnya, yaitu ketika adanya pelarangan akan sesuatu, dimana rasa ingin tahu manusia akan semakin besar.
Rasa ingin tahu yang negatif ini banyak sekali tersebar di kalangan manusia di dunia. Misal dalam hal ini adalah:
-         Rasa ingin tahu tentang aib orang lain. Bahkan Allah ta’ala sudah melarang hal ini. Dalam firmanNya yang Suci al Hujurot 12 :
يأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُواْ اجْتَنِبُواْ كَثِيراً مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلاَ تَجَسَّسُواْ وَلاَ يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضاً أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتاً فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُواْ اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ

Artinya:
Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.
Padahal Baginda yang mulia sholallahu ‘alayh wasallam telah mengingatkan:
وَعَنْ أَنَسٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( طُوبَى لِمَنْ شَغَلَهُ عَيْبَهُ عَنْ عُيُوبِ اَلنَّاسِ ( أَخْرَجَهُ اَلْبَزَّارُ بِإِسْنَادٍ حَسَنٍ
Dari Anas Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Berbahagialah orang yang tersibukkan dengan aibnya sehingga ia tidak memperhatikan aib orang lain.” Riwayat Al-Bazzar dengan sanad hasan[12]

ﻻَ ﺗَﻐْﺘَﺎﺑُﻮﺍ ﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻤِﻴْﻦَ، ﻭَﻻَ ﺗَﺘَّﺒِﻌُﻮْﺍ ﻋَﻮﺭَﺍﺗِﻬِﻢْ، ﻓَﺈِﻧَّﻪُ ﻣَﻦْ ﺗَﺘَّﺒِﻊُ ﻋَﻮﺭَﺍﺕِ ﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻤِﻴْﻦَ، ﺗَﺘَّﺒُﻊُ ﺍﻟﻠّﻪُ ﻋَﻮﺭَﺗِﻪِ، ﻭَﻣَﻦْ ﺗَﺘَّﺒِﻊُ ﺍﻟﻠّﻪُ ﻋَﻮﺭَﺗِﻪِ ﻓَﻴَﻔﻀﺤﻪ ﻭﻟﻮ ﻓﻲ ﺟﻮﻑ ﺭﺣﻠﻪ
" Janganlah kalian mengghibahi orang islam, dan jangan pula mencari-cari cacat/kekurangan mereka. Karena barang siapa mencari-cari kesalahan orang islam, maka Allah akan mencari kesalahannya. Dan barang siapa yang Allah cari kesalahannya, maka Allah akan permalukan dia walau dia sedang berada di tengah-tengah tempat tinggalnya. (HR At Tirmizy dan lainnya)
-          Rasa ingin tahu/berfikir tentang Dzat Allah.
Diriwayatkan dari Anas bin Malik RA., ia berkata: Rasulullah SAW., bersabda: Allah SWT., berfirman: Sesungguhnya hamba-Ku akan terus menerus bertanya apa ini,apa itu? Hingga mereka bertanya, ‘Allah telah menciptakan ini dan itu lalu siapakah yang menciptakan Allah?’ (HR. Muslim)
Rasulullah SAW., juga bersabda: “Berfikirlah tantang nikmat-nikmat Allah, dan jangan berfikir tantang Dzat Allah. (Hasan, Syaikh Al-Abani)
Rasa ingin tahu yang seperti ini seharusnya kita hindari. Menurut pikiran sederhana saya, ada beberapa cara yang dapat secara efektif diterapkan untuk dapat mengalihkannya:
Pertama, dengan mempengaruhi balik pikiran kita dengan kata-kata bahwa rasa ingin tahu kita tersebut bukanlah hal penting, seperti “untuk apa? apa manfaatnya setelah saya tahu? apakah akan menjadi lebih baik setelah saya tahu? apa diri saya merasa hebat setelah mengetahui semuanya? apa hanya untuk kepuasan?”
Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan memberikan ruang bagi rasa ingin tahu tersebut untuk dipertimbangkan kembali. Bila berhasil menjawab pertanyaan tersebut dan menyadari apa yang ingin diketahui kita bukanlah hal penting, maka kita berhasil menyelamatkan diri kita dengan tidak menginvestasikan waktu untuk hal yang non manfaat bagi hidup kita.
Kedua,  mengalihkan dan melupakannya dan memberi perhatian pada hal lain yang lebih penting. Membaca buku atau informasi baru, membaca blog-blog dan tulisan orang lain yang menginspirasi kita, menbuat kita teralihkan dan mempunyai hal baru yang lebih membuat kita “ingin tahu”, dengan hal ini rasa ingin tahu negatif akan mengalami transisi menjadi rasa ingin tahu positif.
Ketiga,  dengan berkomunikasi. Komunikasi dengan orang lain sangat efektif untuk menghilangkan berbagai pikiran negatif ataupun rasa ingin tahu negatif. Terkadang, dengan berkomunikasi kita akan segera menyadari betapa tidak pentingnya apa yang kita pikirkan. Dengan mengalami kognisi dari apa yang orang lain bicarakan, dan adanya dialog, menjadikan kita memikirkan hal lain yang kita anggap lebih menarik, dan pada akhirnya rasa ingin tahu negatif akan terkikis dengan sendirinya.


B.    WAWASAN AL-QUR’AN DAN HADITS TENTANG MENGHARGAI PRESTASI
1.      Pengertian menghargai prestasi
Secara etimologi, prestasi berarti, hasil yang dicapai melebihi ketentuan[13]
Menghargai adalah menghormati keberadaan, harkat, dan martabat orang lain.Menghargai prestasi orang lain artinya menghormati hasil usaha, ciptaan, dan pemikiran orang lain. Kita wajib menghargai dan menghormati hasil karya orang lain, karena dengan sikap seperti itu kehidupan akan berjalan dengan tenteram dan damai karena setiap orang akan menyadari pentingnya sikap saling menghormati dan menghargai tersebut.
Ayat tentang menghargai prestasi:
Q.S. An-Nahl: 97
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”.
Tafsir Q.S. An-Nahl:97
Dalam menafsirkan surat An-Nahl ayat 97 ini, Quraish Shihab menjelaskan dalam kitabnya Tafsir Al-Misbah sebagai berikut :“Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, apapun jenis kelaminnya, baik laki-laki maupun perempuan, sedang dia adalah mukmin yakni amal yang dilakukannya lahir atas dorongan keimanan yang shahih, maka sesungguhnya pasti akan kami berikan kepadanya masing-masing kehidupan yang baik di dunia ini dan sesungguhnya akan kami berikan balasan kepada mereka semua di dunia  dan di akherat dengan pahala yang lebih    baik dan   berlipat  ganda dari  apa   yang telah mereka kerjakan“.[14]

2.      Cara Menghargai prestasi
 Menghargai hasil karya/pretasi orang lain dapat dilakukan dengan bermacam-macam. Adapun bentuk-bentuk menghargai prestasi orang lain adalah sebagai berikut:
-          Melalui Ucapan
 Dalam hal ini berarti berkata dengan baik, tidak meremehkan hasil orang lain dengan kata-kata yang kasar maupun sindiran. Sebagai umat Islam, Rasulul;ah selalu mengajarkan umatnya agar berkata yang baik atau diam.
-          Melalui Perbuatan
Yakni dengan menggunakan hasil karya orang lain tersebut untuk diambil manfaatnya, bukan bermaksud untuk merusaknya, karena pebuatan merusak itu sangat dilarang dalam Agama.
 QS. AL-Qasas ayat 77
ابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ  وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا  وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ  وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ  إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu [kebahagiaan] negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari [keni’matan] duniawi dan berbuat baiklah [kepada orang lain] sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di [muka] bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”
-          Memberikan penghargaan atas hasil karya orang lain.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ قَالَ تَهَادَوْا فَإِنَّ الْهَدِيَّةَ تُذْهِبُ وَحَرَ الصَّدْرِ وَلا تَحْقِرَنَّ جَارَةٌ لِجَارَتِهَا وَلَوْ شِقَّ فِرْسِنِ شَاةٍ
Artinya: Dari Abu Hurairah Rasulullah bersabda: Saling memberi hadiahlah kamu, karena hadiah itu dapat menghilangkan perasaan tidak enak di hati. Janganlah seseorang merasa tidak enak ketika memberi hadiah dengan sesuatu yang tidak berharga. (H.R. al-Bukhari, Muslim dan al-Turmuzi, kitab wala’ no.2056)

-          Memberikan dorongan agar orang tersebut lebih semangat dalam berkarya.

3.      Manfaat menghargai prestasi
-          Akan terjalin hubungan yang harmonis dan tenteram dalam masyarakat, bangsa, dan negara.
-          Memberikan penghargaan pada orang lain berarti kita telah berperilaku terpuji.
-          Dengan memberikan penghargaan pada orang lain berati kita telah memberikan manfaat kepada orang lain.
-          Menjauhkan diri dari sikap menghina, mencela, dan mengejek hasil karya orang lain.
-          Membuat orang lain senang dan gembira karena hasil karyanya dihargai.
-          Menghargai hasil karya orang lain merupakan salah satu upaya membina keserasian dan kerukunan hidup antar manusia agar terwujud kehidupan masyarakat yang saling menghormati dan menghargai sesuai dengan harkat dan derajat seseorang sebagai manusia. Menumbuhkan sikap menghargai hasil karya orang lain merupakan sikap yang terpuji karena hasil karya tersebut merupakan pencerminan pribadi penciptanya.
-          Kita tidak dapat mengingkari bahwa keberhasilan seseorang tidak dicapai dengan mudah dan santai tapi dengan perjuangan yang gigih, ulet, rajin dan tekun serta dengan resiko yang menyertainya. Oleh karena itu, kita patut memberikan penghargaan atas jerih payah tersebut. Isyarat mengenai keharusan seseorang bersungguh-sungguh dalam berkarya dijelaskan dalam Al Qur’an sebagai berikut.  Yang  artinya : “…Karena sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari satu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh kerjaan yang lain.” (QS Al Insyirah : 5-7).
-          Cara yang bisa diwujudkan untuk menghargai hasil karya orang lain adalah dengan tidak mencela hasil karya orang tersebut meskipun hasil karya itu menurut kita jelek. Menghargai hasil karya orang lain merupakan sikap yang luhur dan mulia yang menggambarkan keadilan seseorang karena mampu menghargai hasil karya yang merupakan saksi hidup dan bagian dari diri orang lain tanpa melihat kedudukan, derajat, martabat, status, warna kulit dan pekerjaan orang tersebut.
-          Tidak merusak, meniru, dan memalsukan karya orang lain tanpa izin dari pemiliknya.
-          Menghindarkan perasaan hasad dan dengki atas prestasi atau hasil karya orang lain. Namun ada dua hal yang dibolehkan, sebagaimana diriwayatkan:
Dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ حَسَدَ إِلاَّ فِى اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالاً فَسُلِّطَ عَلَى هَلَكَتِهِ فِى الْحَقِّ ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ الْحِكْمَةَ ، فَهْوَ يَقْضِى بِهَا وَيُعَلِّمُهَا
Tidak boleh hasad kecuali pada dua orang, yaitu orang yang Allah anugerahkan padanya harta lalu ia infakkan pada jalan kebaikan dan orang yang Allah beri karunia ilmu (Al Qur’an dan As Sunnah), ia menunaikan dan mengajarkannya.”[15]

-          Meneladani prestasi yang telah dicapai.
4.      Bahaya tidak menghargai karya orang lain adalah:
-          Membahayakan keimanan
Tidak menghargai prestasi orang lain dapat membawa pada sikap iri hati, dengki, hingga suuzan pada orang lain.
-          Membahayakan akhlak
Seseorang yang terbelit oleh perasaan tamak dan tidak peduli lagi dengan hasil karya orang lain akan melakukan tindak pelanggaran dan kejahatan, seperti pembajakan hak cipta, pembunuhan karakter, dan beragam kejahatan lainnya.
-          Membahayakan masyarakat
Beberapa orang yang tidak bermoral tertarik untuk menjiplak hasil karya tertentu, mencetaknya, dan menjualnya. Sehingga masyarakat tidak tahu, apakah ini asli atau ciplakan.
Islam sangat menganjurkan umatnya agar berlomba-lomba menghasilkan karya yang bermanfaat.
Rasulullah saw. bersabda,
“Sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi orang lain.”
Hadis ini mestinya memotivasi kita, umat Islam, untuk bekerja keras dan beretos kerja tinggi untuk berkarya sesuai dengan bidang dan kemampuan kita masing-masing untuk kejayaan dan kemaslahatan umat (Islam). Dalam hal ini, perlu dikembangkan sikap dan perilaku menghargai karya orang lain. Hal ini akan memberikan dampak positif yang besar bagi lahirnya karya-karya yang bermanfaat bagi umat (Islam).
Seseorang yang merasa karyanya dihargai, maka akan semakin termotivasi untuk menghasilkan karya yang lebih baik lagi. Tetapi sebaliknya, seseorang yang merasa karyanya tidak dihargai, kemungkinan ia bisa putus asa untuk berkarya lagi. Ia akan merasa tidak percaya diri untuk berkarya, apalagi jika karya yang tidak dihargai itu adalah karya perdananya. Respon posotif atau negatif dari orang lain terhadap hasil karyanya akan memberikan dampak yang besar bagi diri dan kreatifitasnya.
Karena itu, perlu kiranya kita merenungi firman Allah swt. berikut ini:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki memperolok-olok kumpulan yang lain, boleh jadi yang diperolok-olok itu lebih baik dari mereka (yang memperolok-olok). Dan jangan pula sekumpulan perempuan memperolok-olok kumpulan lainnya, boleh jadi yang diperolok-olok itu lebih baik dari mereka (yang memperolok-olok)….”. (QS Al Hujurat: 11)
Yang dimaksud dengan larangan mengejek atau memperolok-olok orang lain pada ayat di atas, termasuk juga larangan mengejek hasil karya dari orang lain. Hal ini berarti secara tidak langsung, kita diperintahkan untuk menghargai karya orang lain selama karya tersebut positif.


BAB III
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
Manusia selalu merasa dirinya serba kekurangan, baik dalam ekonomi, ilmu,  mapun prestasi/karya. Manusia memiliki hasrat yang sangat besar untuk mengetahui sesuatu. Ilmu pengetahuan akan selalu berkembang dikarenakan rasa ingin tahu yang dikaruniakan Allah kepada manusia. Namun dalam syari’at Islam ada hal yang diperbolehkan untuk mencari tahu dan ada juga hal yang dilarang untuk mengetahunya.
Seseorang yang memiliki rasa ingin tahu yang kuat, maka orang tersebut akan meraih prestasi dalam kehidupannya, dikarenakan ilmu yang ia dapatkan. Didalam Islam diperintahkan untuk menghargai prestasi seseorang, dan dilarang untukmengejek dan iri terhadap prestasi orang lain.
B.     SARAN
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembacanya, dan bernilai ibadah bagi penulis/penyusunnya.
Selanjutnya, saya menyadari bahwa manusia tidak terlepas dari khilaf dan salah, dan saya juga menyadari bahwa banyak kekurangan dalam menyusun makalah yang sederhana ini karena keterbatasan ilmu dan materi yang kami miliki.
Untuk itu, kritik dan saran sangat saya harapkan agar kami bisa lebih baik dalam menyusun makalah.


DAFTAR PUSTAKA
Departemen Agama RI. (2008) Al-Qur’an dan Terjemahannya, Bandung: CV. Penerbit Diponegoro
Imam Muhammad, (2010), Ringkasan Shahih Bukhari, Pustaka Adil: Surabaya,
Abu Jaafar As-Siddiq, (2002), Rahasia Tingkatan Nafsu, Jakarta: Darul Iman.
Bukhari Umar, (2011), Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Amzah, cet. 2
Sirajuddin Abbas, (2008), 40 Masalah Agama, Jakarta: Pustaka Tarbiyah Baru, cet. 6,
Q. Shaleeh, (2009), Asbabun Nuzul, CV. Penerbit Diponegoro: Bandung, cet. 10.
Fahmi Idrus, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, Surabaya: Greisinda Press.
Didik Suhardi, (2014), Nilai Karakter Refleksi Untuk Pendidikan, PT. Raja Grafindo Persada: Jakarta.
Ismail Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir Juz 4, (Sinar Baru Algesindo: Bandung, T.Th)
Murdodiningrat, Kisah Teladan 25 Nabi Dan Rasul Dalam Al-Quran. (2012) Pustaka Pelajar: Yogyakarta.
Asrifin, Jalan Menuju Ma’rifatullah Dengan Tahapan 7 M, (2001) Surabaya: Terbit Terang.
M. Quraisy Shihab, Tafsir Al-Misbah (Lentera Hati: Jakarta, 2002, V.5)



[1]  Abu Jaafar As-Siddiq, Rahasia Tingkatan Nafsu, (Jakarta: Darul Iman, 2002), hlm. 1
[2] Bukhari Umar, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Amzah, cet. 2, 2011), hlm. 1
[3] Sirajuddin Abbas, 40 Masalah Agama, (Jakarta: Pustaka Tarbiyah Baru, cet. 6, 2008), hlm. 295
[4] Ismail Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir Juz 4, (Sinar Baru Algesindo: Bandung, T.Th), hlm 365
[5] Q. Shaleeh, Asbabun Nuzul, (CV. Penerbit Diponegoro: Bandung, cet. 10, 2009), hlm. 124
[6]  Imam Muhammad,  Ringkasan Shahih Bukhari (Pustaka Adil: Surabaya, 2010), hlm. 488
[7]  Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Ibnu Majah (no. 224), dari Shahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, lihat Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir (no. 3913). Diriwayatkan pula oleh Imam-imam ahli hadits yang lainnya dari beberapa Shahabat seperti ‘Ali, Ibnu ‘Abbas, Ibnu ‘Umar, Ibnu Mas’ud, Abu Sa’id al-Khudri, dan al-Husain bin ‘Ali radhiyallaahu ‘anhum
[9] .Murdodiningrat, Kisah Teladan 25 Nabi Dan Rasul Dalam Al-Quran. (Pustaka Pelajar: Yogyakarta, 2012), hlm. 76


[10]  Asrifin, Jalan Menuju Ma’rifatullah Dengan Tahapan 7 M, (Surabaya: Terbit Terang, 2001), hlm. 149
[11]  Didik Suhardi, Nilai Karakter Refleksi Untuk Pendidikan (PT. Raja Grafindo Persada: Jakarta,2014), hlm. 87
[12]  Hadits Marfu’ riwayat Thabrani (Al-Mu’jam Al-Kabir, Juz 5, hlm. 71) riwayat Baihaqi (Syu’bul Imam, Juz 7, hlm. 355), Al-Qodhai (Musnad Asy-Syihab, juz 1 , hlm.71)
[13]  Fahmi Idrus, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia (Surabaya: Greisinda Press), hlm. 499
[14]  http://nhrbloggers.blogspot.co.id/2012/10/qsan-nahl-ayat-97.html (diunggah 09 Oktober 2017), blog ini mengutip dari:  M. Quraisy Shihab, Tafsir Al-Misbah (Lentera Hati: Jakarta, 2002, V.5). 134
[15]  Imam Muhammad, Ringkasan Shahih Bukhari, (Pustaka Adil: Surabaya, 2010), hlm. 52

No comments:

Post a Comment